Selamat Datang. Silakan hubungi WhatsApp 08562856610 untuk informasi stok buku yang Anda butuhkan.
Keranjang 0
Display Pengkajian Prosa Fiksi.jpg

Pengkajian Prosa Fiksi (ed. Revisi)

Rp 99,000.00


Andri Wicaksono.

Buku ini ditulis untuk dijadikan sebagai bahan bacaan, pegangan, buku  ajar bagi mahasiswa jurusan bahasa-sastra, guru bahasa dan sastra, dan  atau pembaca lainnya yang berminat untuk dapat menambah pengetahuan dan  wawas-an tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengkajian prosa fiksi.  Kehadiran buku ini dapat dianggap sebagai penambah khasanah keramaian  teori apresiasi/kajian prosa fiksi. Hanya sayang, yang beredar sampai  seberang nusa dan antara tidak banyak. Buku ini adalah sebuah usaha  untuk membuat teori fiksi menjadi mudah dipahami dan menarik bagi  sebanyak mungkin pembaca. Seperti yang coba diung-kapkan oleh buku ini,  sebenarnya tidak ada ‘teori fiksi, dalam artian yang sebangun pada suatu  teori teori tertentu atau kecenderungan yang muncul dari “tokoh, ahli,  teori, paham tertentu” atau terapan pada fiksi apapun juga.

Tidak  satu pun dari bab per bab yang disebutkan dalam buku ini, mulai dari  bagian pertama Bab I – III memuat pengantar, pendekatan, dan kajian  fiksi; bagian kedua Bab IV – VIII berisi struktur intrinsik : tema,  alur, tokoh, latar, sudut pandang, stilistika (untuk subbab ini dibahas  pada buku yang berbeda); hingga bagian ketiga buku ini atau yang  terakhir Bab IX berisi unsur ekstrinsik fiksi yang terbatas pada Nilai  Pendidikan (religius, moral, budaya); yang benar-benar berurusan dengan  tulisan ‘teori fiksi’ saja.

Buku ini dicoba disusun dengan  menggunakan bahasa yang lugas, pengertian dan sintesis dari teori-teori  yang “terbaca dan terjangkau”, disertai contoh aplikatif dari beberapa  karya yang barangkali fenomenal dan penting pada masanya. Kata yang  tercetak dari teori untuk menjadi jenis bahasa ‘biasa’ yang selalu  tersedia secara alamiah bagi semua orang, pun merupakan teori fiksi  tertentu. Sepa-tutnya dipahami, teori apresiasi fiksi terbentuk lebih  oleh impuls demokratis (bebas, manasuka-arbitrer) ketimbang elitis,sangkil. Pada titik ini, semoga ada dalam tingkat keterbacaan yang tidak membosankan bagi pembaca.