Selamat Datang. Silakan hubungi WhatsApp 08562856610 untuk informasi stok buku yang Anda butuhkan.
Keranjang 0
Display Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar.jpg

Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar

Rp 40,000.00



 “Kelima belas cerpen Andy dengan gaya bahasanya sendiri dan  menceritakan apa-apa yang Ia temui dalam masyarakatnya. Isu-isu yang  sejatinya selalu muncul dalam kehidupan kita dan tidak membuatnya rumit  dimengerti. Disajikan dengan nuansa Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan  gaya bahasa yang sederhana, sehingga benda-benda, mahluk hidup dan  personifikasi lainnya yang terlupakan menjadi sesuatu yang sangat subjek  di beberapa cerita. Ada juga yang menurutku seperti kepingan-kepingan  puzzle contohnya pada cerita Mencari Galuh, Roda, dan Menunggu Laela.  Ada tebakan dan jebakan tersendiri bagi saya sebagai pembaca dan  penikmat cerita pendek. Di Sungai Waktu Itu gonna be my fav part.” — Epiest Gee | Ibu Rumah Tangga pecinta karya Sastra, Tinggal di Bandung.

“Sebagai  penulis Andy punya kepekaan terhadap tema yang sering tidak dilirik  penulis lain. Digarap dengan pelbagai gaya yang sering mengejutkan yang  dia temukan dari pengalaman keseharian yang diakrabinya. Membaca cerita  Andy seperti bertamasya ke dalam kehidupan yang sering kita abaikan.”– Ikun ESKA | Penulis dan pengamat seni pertunjukan

“Kumpulan  cerita ini menyuguhkan pergulatan hidup kaum marginal yang harus  berhadapan dengan perubahan zaman: pelacur yang digauli anak kandungnya  sendiri, pasangan lelaki dan perempuan yang gamang dengan pandangan  hidup ‘semangat bebasnya,’ anak ‘haram’ yang dibesarkan oleh caci-maki  masyarakat dan kasih-sayang orang-orang budiman, tukang becak yang  menjalin cinta dengan pengusaha batik dan seorang lelaki yang mencari  jasad ayahnya yang menjadi korban dari suatu ‘prahara’ sejarah…  Perubahan sosial yang cepat dan tiba-tiba serta perubahan nasib manusia  yang tak terduga, rupanya menginspirasi sang penulis untuk melahirkan  cerita-ceritanya. Kisah-kisah dalam antologi cerita pendek ini tak  melulu muram dan menyedihkan. Di berbagai bagian, humor-humor segarnya  muncul untuk mengendurkan ketegangan cerita, lengkap dengan kenaifan dan  ketakacuhan pada hidup yang telah berlaku kejam pada tokoh-tokoh  marginal dalam kumpulan cerita ini.” — Dwi Cipta | Cerpenis dan Pecinta Perjalanan

“Andy  punya gaya sendiri dalam bercerita, yang sangat cocok untuk  menceritakan kisah kehidupan orang-orang kampung. Bercita rasa anak  kampung adalah ciri khas kisah-kisah dalam buku ini.

Di samping  itu, sepertinya Andy menulis demi masa kanak-kanaknya. Dalam  cerpen-cerpennya ia sering sangat berpihak pada perasaan dan sikap  kekanak-kanakan para tokohnya. Hal ini terlihat cukup tegas, misalnya,  di setiap adegan seks yang ia ceritakan. Naif, vulgar, tapi tak  pretensius.
Ide cerita Andy liar dan kengawurannya dalam berbahasa  sering tanpa kontrol. Jika tak sabar hati kita akan senang dengan  kesegaran ide ceritanya tapi mengumpat oleh kesewenang-wenangannya  menggunakan metafora.
Biar bagaimanapun, belilah buku ini dan  selamat menemukan kejutan di tiap akhir cerpennya, yang bisa lucu, bisa  pula membikin Anda tergugu.” — Naomi Srikandi | Penulis, sutradara dan aktor teater

“Membaca  cerpen-cerpen Andy SW sesungguhnya menonton drama. Itulah kekuatannya  (atau justru kelemahannya?)…Hmm, babak, dan adegan merefleksikan gerak,  suasana dan visual dari realitas tragis dan romantis, berganti-ganti”.  — Yoshi Fajar Kresno Murti | Insinyur Ugahari